Jumaat, 27 Mei 2011

Madrasah di Ulu Langat


2000: Berkunjung ke rumah sahabat di Ulu Langat
dan rumahnya berhampiran sebuah madarasah yang
aku pun dah lupa lokasi tepatnya.
Suasananya memang dalam perkampungan dan
sepanjang di rumah beliau akan kedengaran suara
pelajar-pelajar di madrasah berhampiran sedang
membaca al-quran beramai-ramai.

2011: Kejadian tanah runtuh di Rumah Anak Yatim
dan Anak Hidayah Madrasah Al-Taqwa yang lalu
mengingatkan semula suasana itu. Mungkin tempat
yang berlainan tapi suasananya ku kira begitulah.

Renungan: Pertanyaan tentunya akan datang dalam
fikiran mengapa ini boleh berlaku dan banyaklah
pandangan, pendapat dan macam-macam yang
boleh kita dengar.

Hikmah: Setiap apa yang berlaku adalah ketentuanNya
dan tentu kita pernah dengar kisah Nabi Musa
'belajar' dari Nabi Khidir yang difirmankan Allah
didalam Surah Al-Kahfi.

Dan (ingatkanlah peristiwa) ketika Nabi Musa berkata
kepada temannya: "Aku tidak akan berhenti berjalan sehingga
aku sampai di tempat pertemuan dua laut itu atau aku
berjalan terus bertahun-tahun". (Al-Kahfi 18:60)

Maka apabila mereka berdua sampai ke tempat pertemuan
dua laut itu, lupalah mereka akan hal ikan mereka,
lalu ikan itu menggelunsur menempuh jalannya di laut,
yang merupakan lorong di bawah tanah. (Al-Kahfi 18:61)

Setelah mereka melampaui (tempat itu), berkatalah Nabi Musa
kepada temannya: "Bawalah makan tengah hari kita
sebenarnya kita telah mengalami penat lelah dalam
perjalanan kita ini". (Al-Kahfi 18:62)

Temannya berkata: "Tahukah apa yang telah terjadi
ketika kita berehat di batu besar itu? Sebenarnya aku
lupakan hal ikan itu; dan tiadalah yang menyebabkan
aku lupa daripada menyebutkan halnya kepadamu
melainkan Syaitan; dan ikan itu telah menggelunsur
menempuh jalannya di laut, dengan cara yang
menakjubkan". (Al-Kahfi 18:63)

Nabi Musa berkata: "Itulah yang kita kehendaki ";
merekapun balik semula ke situ, dengan menurut
jejak mereka. (Al-Kahfi 18:64)

Lalu mereka dapati seorang dari hamba-hamba
Kami yang telah kami kurniakan kepadanya rahmat
dari Kami, dan Kami telah mengajarnya sejenis ilmu;
dari sisi Kami. (Al-Kahfi 18:65)

Nabi Musa berkata kepadanya: Bolehkah aku mengikutmu,
dengan syarat engkau mengajarku dari apa yang telah
diajarkan oleh Allah kepadamu, ilmu yang menjadi
petunjuk bagiku?" (Al-Kahfi 18:66)

Ia menjawab: "Sesungguhnya engkau (wahai Musa),
tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku. (Al-Kahfi 18:67)

Dan bagaimana engkau akan sabar terhadap perkara
yang engkau tidak mengetahuinya secara meliputi? (Al-Kahfi 18:68)

Nabi Musa berkata: "Engkau akan dapati aku,
Insyaa Allah: orang yang sabar; dan aku tidak akan
membantah sebarang perintahmu". (Al-Kahfi 18:69)

Ia menjawab: "Sekiranya engkau mengikutku, maka janganlah
engkau bertanya kepadaku akan sesuatupun sehingga
aku ceritakan halnya kepadamu". (Al-Kahfi 18:70)

Lalu berjalanlah keduanya sehingga apabila mereka
naik ke sebuah perahu, ia membocorkannya.
Nabi Musa berkata: "Patutkah engkau membocorkannya
sedang akibat perbuatan itu menenggelamkan
penumpang-penumpangnya? Sesungguhnya engkau telah
melakukan satu perkara yang besar".
(Al-Kahfi 18:71)

Ia menjawab: "Bukankah aku telah katakan, bahawa engkau
tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku?" (Al-Kahfi 18:72)

Nabi Musa berkata: "Janganlah engkau marah akan daku
disebabkan aku lupa (akan syaratmu); dan janganlah engkau
memberati daku dengan sebarang kesukaran dalam
urusanku (menuntut ilmu)". (Al-Kahfi 18:73)

Kemudian keduanya berjalan lagi sehingga apabila
mereka bertemu dengan seorang pemuda lalu ia
membunuhnya. Nabi Musa berkata "Patutkah engkau
membunuh satu jiwa yang bersih, yang tidak berdosa
membunuh orang? Sesungguhnya engkau telah
melakukan satu perbuatan yang mungkar!" (Al-Kahfi 18:74)

Ia menjawab: "Bukankah, aku telah katakan kepadamu,
bahawa engkau tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku?"
(Al-Kahfi 18:75)

Nabi Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang
sebarang perkara sesudah ini, maka janganlah engkau
jadikan daku sahabatmu lagi; sesungguhnya engkau
telah cukup mendapat alasan-alasan berbuat demikian
disebabkan pertanyaan-pertanyaan dan bantahanku". (Al-Kahfi 18:76)

mudian keduanya berjalan lagi, sehingga apabila mereka
sampai kepada penduduk sebuah bandar, mereka meminta
makan kepada orang-orang di situ, lalu orang-orang itu
enggan menjamu mereka. Kemudian mereka dapati di
situ sebuah tembok yang hendak runtuh, lalu ia membinanya.
Nabi Musa berkata: "Jika engkau mahu, tentulah
engkau berhak mengambil upah mengenainya!" (Al-Kahfi 18:77)

Ia menjawab: "Inilah masanya perpisahan antaraku denganmu,
aku akan terangkan kepadamu maksud
(kejadian-kejadian yang dimusykilkan) yang engkau
tidak dapat bersabar mengenainya.
(Al-Kahfi 18:78)

Adapun perahu itu adalah ia dipunyai oleh orang-orang
miskin yang bekerja di laut; oleh itu, aku bocorkan dengan
tujuan hendak mencacatkannya, kerana di belakang mereka
nanti ada seorang raja yang merampas tiap-tiap sebuah
perahu yang tidak cacat.
(Al-Kahfi 18:79)

Adapun pemuda itu, kedua ibu bapanya adalah orang-orang
yang beriman, maka kami bimbang bahawa ia akan mendesak
mereka melakukan perbuatan yang zalim dan kufur.
(Al-Kahfi 18:80)

Oleh itu, kami ingin dan berharap, supaya Tuhan mereka
gantikan bagi mereka anak yang lebih baik daripadanya
tentang kebersihan jiwa, dan lebih mesra kasih sayangnya.
(Al-Kahfi 18:81)

Adapun tembok itu pula, adalah ia dipunyai oleh dua orang
anak yatim di bandar itu; dan di bawahnya ada "harta terpendam"
kepuyaan mereka; dan bapa mereka pula adalah orang yang soleh.
Maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka cukup umur
dan dapat mengeluarkan harta mereka yang terpendam itu,
sebagai satu rahmat dari Tuhanmu (kepada mereka).
Dan (ingatlah) aku tidak melakukannya menurut fikiranku sendiri.
Demikianlah penjelasan tentang maksud dan tujuan perkara-perkara
yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya".
(Al-Kahfi 18:82)

Foto: Penghuni Madrasah At-Taqwa..
DariNya Kita datang dan
kepadaNya kita pergi.
Semoga roh mereka yang terkorban
dicucuri rahmat.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan